bewok

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2010

Motivasi Diri

Seringkali rutinitas, dan berbagai masalah yang datang silih berganti setiap hari membuat kita kehilangan motivasi untuk mendapatkan yang lebih baik dalam kehidupan. Hingga semua tujuan kita mengabur dan lama-lama menghilang. Berikut kami sampaikan tujuh cara untuk mendapatkan motivasi setiap hari:

1. Ciptakan Hasrat - Lihat imbalan dari usaha Anda secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana Anda cepat terwujud. Bayangkan rumah impian Anda setiap hari, dan ini akan memberikan Anda dorongan untuk menjadikannya nyata.

2. Ciptakan Rasa Sakit - Dalam program Neuro-Linguistic mereka mengajarkan pada Anda untuk menghubungkan rasa sakit dengan tidak melakukan tindakan. Gambaran kekasih Anda keluar dengan orang lain, saat Anda menyaksikan itu dengan diam-diam, hal itu mungkin membuat Anda termotivasi membicarakan hal-hal yang Anda hindari dengan pasangan Anda.

3. Bicarakan Rencana Anda - Bicaralah pada pasangan Anda tentang rencana Anda, atau tuliskan dalam selembar kertas apa yang akan Anda lakukan lalu tempelkan di kulkas.

4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata - Jika tak ada ketertarikan sama sekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu, untuk itu buat sebuah tujuan besar dalam pikiran Anda.

5. Miliki Energi - Kafein akan memberikan rasa sehat untuk sesaat, tapi dalam satu atau lain cara, Anda membutuhkan energi lebih sebagai motivasi untuk setiap hari, misalnya dengan olah raga atau tidur cukup.

6. Ciptakan Keseimbangan Mental - Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika Anda dalam keadaan tertekan. Hilangkan beberapa perasaan negatif Anda, atau pada akhirnya pilih kerjakan pekerjaan penting saat Anda dalam mood yang bagus.

7. Ambil Sebuah Langkah Kecil - Lakukan pengumpulan untuk satu tas besar daun-daun di halaman. Dan denagn segera Anda akan membersihkan halaman. Setiap sebuah langkah kecil yang Anda ambil untuk mencapi tujuan akan memberikan motivasi pada Anda setiap hari

ingin mati!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yg saya lakukan sll berantakan. Saya ingin mati.”

Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tdk Guru, saya tdk sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tdk mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.”

“Tdk Guru… Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” Tolak pria itu

“Jd kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”

“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah diminum malam ini, setengah lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya utk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, krn ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dgn senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun tsb. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tdk pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati… terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan utk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yg sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda utk melakukan jln pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu utk dirinya, satu lagi utk istrinya. Krn pagi itu adl pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yg terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dgn setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”

Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mrk pun menjadi lembut. Karena itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau slm ini aku sll merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Slm ini ayah selalu stres krn perilaku kami semua.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup mjd sgt indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dgn setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

” Ya Tuhan, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Tuhan. Aku takut sekali jika aku hrs meninggalkan dunia ini ”.

Ia pun buru-buru mendatangi sang Guru yang telah memberi racun kpdnya. Sesampainya dirumah Guru tersebut, pria itu mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Krn ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia mjd hidup kembali.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang Guru berkata “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dpt menjemputmu kpn saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jln menuju ketenangan.”

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini…

Ini ada kata mutiara atau kata bijak dari saya : “Hiduplah seolah-olah kamu akan mati esok, Belajarlah seolah-olah kamu hidup selamanya”

Buat yang masih suka menunda-nunda, apakah jadinya kalau besok hari meninggal?

Buat yang merasa hidupnya jenuh, itu bukan hidup yang jenuh, bersyukurlah dan berbuatlah lebih banyak kebaikan pada orang lain, maka hidup akan terasa jauh lebih bersinar.

10 hal yang tak dapat dibeli dengan uang

Kita sering membicarakan tentang uang, bagaimana mendapatkan banyak uang, bagaimana mengatur pengeluaran, berapa yang ditabung, serta diinvestasikan di mana. Kita sibuk merencanakan, memikirkan, dan mengkuwatirkan uang yang kita miliki, sehingga seolah-olah uang adalah hal yang paling penting di dunia.
Uang memang penting dalam kehidupan, tanpa alat tukar ini kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Uang membuat kita bisa melakukan banyak hal dibandingkan jika kita tak memilikinya. Tetapi sepenting-pentingnya uang, sebanyak apa pun pundi-pundi uang anda, ada hal-hal yang tak bisa dibeli olehnya, yaitu sebagai berikut :

1. Kehilangan waktu
Uang tak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang Anda pada orang tercinta, sebelum waktu itu berlalu.

2. Kebahagiaan
Memang kedengarannya klise, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Tapi inilah kenyataannya. Uang memang bisa membuat Anda merasa senang karena bisa membiayai liburan, membeli elektronik terkini, atau mobil paling cepat. Tapi setumpuk uang tak kan pernah bisa menghadirkan kebahagiaan yang nyata yang berasal dari dalam hati kita. Kebahagiaan jenis ini hanya datang dari hubungan yang membahagiakan serta dukungan dan cinta dari keluarga.

3. Kebahagiaan Anak
Untuk memberikan sandang dan pangan yang layak kepada buah hati memang dibutuhkan uang. Tapi uang tak bisa memberikan rasa aman, tanggung jawab, sikap yang baik, serta kepandaian, pada anak-anak. Hal itu merupakan buah dari waktu dan perhatian yang Anda curahkan untuk mereka dan hal-hal baik yang Anda ajarkan. Uang memang membantu kita memenuhi beberapa aspek pengasuhan, tapi waktu telah membuktikan bahwa kebutuhan dasar tiap anak adalah berapa banyak waktu yang diberikan orangtuanya, bukan uangnya.

4. Cinta
Ini satu hal klise lainnya, cinta tak bisa dibeli dengan uang, tapi akuilah hal itu benar. Dengan uang kita bisa membuat orang tertarik, tapi cinta berasal dari rasa saling menghargai, perhatian, berbagi pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang bersama. Itu sebabnya banyak pasangan yang menikah karena uang, tak bertahan lama.

5. Penerimaan
Untuk diterima oleh lingkungan pergaulan, Anda tak butuh uang. Bila Anda ingin diterima, fokuskan energi anda untuk membuat diri anda berharga bagi lingkungan sekitar dengan menjadi teman dalam suka dan duka.

6. Kesehatan
Kita butuh uang untuk mengongkosi biaya perawatan dan membeli obat, tapi uang tak bisa menggantikan kesehatan yang hilang. Itu sebabnya pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati sebaiknya kita terapkan. Mulailah berolahraga, berhenti merokok, dan banyak hal lain yang pasti sudah anda tahu.

7. Kesuksesan
Beberapa orang memang ada yang mencapai kesuksesan dengan menyuap, tapi ini adalah pengecualian. Kesuksesan hanya berasal dari kerja keras, kemauan, dan sedikit kemujuran. Ada aspek kecil dari usaha menuju sukses yang bisa didapatkan dengan uang, misalnya mengikuti pelatihan atau membeli peralatan, tapi sukses lebih banyak berasal dari usaha yang Anda lakukan sendiri.

8. Bakat
Kita dilahirkan dengan bakat tertentu. Dengan uang, yang bisa kita lakukan adalah mengasah bakat tersebut, misalnya belajar musik. Namun para ahli mengatakan, untuk menjadi ahli di bidangnya, kita membutuhkan bakat.

9. Sikap yang baik
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap seseorang.

10. Kedamaian
Bila uang bisa membeli kedamaian, barangkali kita tak lagi mendengar tentang perang. Justru yang sering terjadi sebaliknya, uang lah yang menjadi sumber pertikaian dan permusuhan.
Sumber : kompas.com

Keberanian & Membuang Perasaan Takut Yang Berlebihan

Mungkin diantara kawan-kawan, ada yang mempunyai perasaan minder atau introvet yang berlebihan, malu bertanya, terlebih tatkala di forum umum yang banyak dihadiri orang dan segala variannya sehingga kadang hal ini dapat menghalangi kita untuk mendapatkan berbagai manfaat ataupun menghambat kemajuan kita, baik itu dalam karir, studi, dan social live kita. Dengan postingan ini berharap bisa membantu membuang perasaan itu semua, minimum mengurangi. Selamat membaca.

Keberanian merupakan keutamaan yang besar dan salah satu sifat kebajikan yang tinggi. Sifat ini adalah salah satu motivator kemauan yang terbesar dan merupakan faktor terbesar diraihnya suatu keinginan.

Orang yang berani itu tidak takut terhadap kejahatan yang sarat dengan penganiayaan, dan ingin mendapatkan kemuliaan yang tinggi. Lantas hal tersebut mendorong dirinya untuk melakukan pembelaan dan tidak merelakan dirinya menjadi sasaran kejahatan.

Suatu umat tidak akan ditakuti dan disegani oleh musuhnya kecuali apabila umat tersebut mempunyai kekuatan lahir dan batin. Kekuatan fisik bisa diperoleh dengan kekuatan hati dan menganggap hina tergelincir dalam perbuatan yang tidak disenangi, dan itulah yang dinamakan keberanian. [1]

Keberanian tidak hanya terbatas maju dalam kancah peperangan, keberanian juga mencakup keberanian dalam mengemukakan pendapat, menjalankan kebenaran dan sejenisnya yang nanti akan dijelaskan disini insyaAllah.

Bukan merupakan syarat bahwa orang yang berani itu harus tidak memiliki rasa takut dalam hatinya terhadap bencana, takut maju, dan yang lainnya. Sebab semua itu adalah perasaan yang dimiliki setiap orang (manusiawi) tatkala ia mau memulai pekerjaan besar atau baru.

Tapi cukuplah seseorang dianggap berani apabila ia tidak terlalu membesar-besarkan rasa takut sehingga menghalanginya untuk maju atau menggiringnya untuk mundur.

Hisyam bin Abdul Malik pernah berkata kepada Maslamah,

Hisyam: “Wahai Abu Sa’id, apakah rasa takut untuk berperang atau menghadapi musuh pernah merasukimu?”.

Maslamah: “Aku tidak pernah selamat dari rasa takut, yang membangkitkan diriku untuk melakukan tipu muslihat dan tidak pernah katakutan dalam peperangan tersebut sampai mencabut akal fikiranku”.

Hisyam: “Inilah keberanian“. [2]

Bahkan orang yang paling berani sekalipun tetap mempunyai perasaan takut ketika terjun dalam kancah peperangan. Tetapi ketakutan tersebut tidak membuat mereka mundur dari peperangan.

Amr bin Ma’di Kariba Az-Zubaidi, -sebagai teladan keberanian-, pernah menggambarkan keadaannya di medan pertempuran. Ia menjelaskan bahwa ketakutan merasuki dirinya, tetapi hal itu tidak membawanya lari dari medan peperangan. Ketakutan tersebut tidak mengurangi keberaniannya dan tidak menurunkan kedudukannya, sebagaimana perkataannya:

Aku himpunkan kakiku pada suatu peperangan

karena takut mati dan aku hendak melarikan diri

Tapi aku berhasil melunakkannya dengan keterpaksaan

ketika jiwaku meraung dari kematian

Semua itu adalah perilaku dariku dan dengan semuanya aku layak mendapat keelokan. [3]

Keberanian dengan demikian membutuhkan keteguhan hati. Keberanian tidak identik dengan ‘tidak punya rasa takut’, sebagaimana perkiraan sementara orang.

Orang yang mengetahui segala akibat yang ditimbulkan dan khawatir hal itu akan terjadi, kemudian ia menghadapi semua itu dengan keteguhan hati, maka ia adalah seorang yang berani.

Seorang panglima yang berdiri di atas garis api, -yang penuh bahaya-, lalu iapun kaget karenanya, -takut datangnya kematian-, kemudian ia menenangkan jiwanya dan melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya, maka ia adalah orang yang pemberani.

Bahkan termasuk pemberani juga apabila ia memandang bahwa sebaik-baik tindakan yang harus diambil ialah menjauhi bahaya, atau manarik mundur tentaranya ke posisi yang tidak berbahaya.

Keberanian tidak bersandar pada maju atau mundur, tidak pula pada perasaan takut atau tidaknya, melainkan bersandar kepada keteguhan hati dan pengambilan tindakan yang sepatutnya pada waktu yang semestinya.

Bahkan bukan merupakan sesuatu yang terpuji apabila manusia terbebas dari segala rasa takut. Adakalnya rasa takut itu adalah keutamaan dan tidak adanya merupakan kehinaan. Takut saat maju menghadapi perkara penting yang berhubungan dengan kemaslahatan umat, atau perlu membuat keputusan yang mantap, adalah keutamaan dan tanda keutamaan. Sebab hal itu mengandung pemikiran dan sikap kehati-hatian sehingga pertimbangan tersebut matang. [4]

Karena itu kaum bijak senantiasa menasehati manusia untuk tidak maju menghadapi perkara-perkara yang berbahaya, kecuali apabila manfaat maju tersebut adalah lebih besar daripada akibat buruknya.

Tapi sikap pengecut dan ketakutan yang tercela adalah orang yang berlebih-lebihan di dalamnya sehingga keluar dari batasnya. Inilah ketakutan para pengecut yang memenangkan aspek keburukannya dan khawatir akan akibat buruknya.

Adapun si pemberani, ia tidak terlalu memikirkan keburukannya. Kemudian apabila hal itu terjadi, maka ia tidak bersedih hati, bahkan sabar dan tabah menghadapinya. Jika ia sakit, maka penyakitnya tidak semakin menambah kesedihannya, dan jika sesuatu yang tidak disukainya menimpanya, maka ia menghadapinya dengan tabah sehingga penderitaannya menjadi ringan.

Ringkasnya, orang yang berani itu bukanlah orang yang dikebiri dari rasa takut terhadap sesuatu yang semestinya ditakuti. Bukan pula si pengecut yang takut pada bayangannya sendiri dan takut terhadap sesuatu yang tidak perlu ditakuti. [4]

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk menjadi orang yang pemberani. Sebagai tambahan, masih ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang meraih keberanian dan membuang sikap berlebih-lebihan dalam membesar-besarkan rasa takut yang insyaaAllah akan dipostingkan pada tulisan selanjutnya. Ameen.

Jangan Berlebihan Memuji Diri Sendiri

Sebagian dari kita selalu ingin menunjukkan kelebihannya dihadapan orang lain. Setiap berdiskusi selalu membanggakan & menonjolkan dirinya, memuji setiap prestasinya, semua pembicaraannya didominasi dengan perkataan “kami begini”, “kami telah berbuat begini”, dll. Alangkah bersyukurnya orang yang pernah jatuh, kemudian bangun dan bangkit kembali dengan kearifan dan jauh dari sikap sombong. Bukankah hidup bagai roda yang berputar..?!, kadang di bawah dan kadang di atas sobat !?. Dan bukankah di atas langit masih ada langit…, bukankah diatas orang yang berilmu pasti ada yang lebih berilmu lagi sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan di atas orang yang berilmu, ada orang lain yang lebih ‘alim…” [QS. ... ]

Ingatkah kita kisah nabi Musa dan Khidir ‘alaihimussalam dalam surat al-Kahfi…?!, bukankah di atas nabi Musa ‘alaihissalam yang diberi ilmu dan kelebihan Allah Ta’ala ternyata ada nabi Khidir yang lebih ‘alim.

Hendaknya perkataan-perkataan yang tersebut diatas selalu dijauhi oleh seorang penuntut ilmu, karena ia telah memakai baju yang lebih besar dari dirinya. Mari kita sama-sama membiasakan diri untuk tidak memuji diri, tidak menggunakan gelar, dan tidak memuliakan dirinya sendiri, niscaya ini semua lebih mendekatkan diri kita pada sifat tawadhu dan membuat diri kita lebih siap menerima ilmu.

Sebagian dari mereka mengungkapkan, “Kami telah meneliti hadits ini dan kami mendapatkan hasil begini!”. Kami tidak mengatakan ini tidak boleh. Namun di antara sifat dan etika penuntut ilmu adalah mengetahui kemampuan dirinya. Lain halnya jika orang tersebut adalah seorang ulama.

Seorang penyarir pernah berkata:

Rendahkanlah dirimu,

niscaya engkau akan jadi seperti bintang,

tampak bagi orang yang melihat,

sifatnya seperti air namun kedudukannya tinggi,

Jangan seperti asap yang mengangkat dirinya ke derajat angkasa, namun ia hina.

Bintang dapat anda lihat dalam air, tapi kedudukannya tinggi.

Sedangkan asap asalnya di bumi, namun ia mengangkat dirinya.

Perkataan yang lebih baik dari syair ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, jangan kalian saling mendzalimi“. [HR. Muslim dan Abu Dawud].

Dalam hadits yang lain disebutkan:

Tidaklah seseorang itu merendahkan diri kepada Allah Ta’ala, niscaya Allah akan mengangkatnya“. [HR. Muslim].

Pengaruh & Peranan Orang Tua Dalam Pendidikan

eranan kedua orang tua dalam pendidikan sangatlah besar dan pengaruhnya dalam meninggikan kemauan anak sangat begitu penting dan menentukan. Jika kedua orang tua memberi teladan dalam kebajikan, senantiasa memperhatikan pendidikan anak, dan berusaha menumbuhkan mereka dengan akhlak yang mulia serta menjauhkan mereka dari segala akhlak yang buruk dan perbuatan yang tidak terpuji, maka hal itu akan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam jiwa anak-anak. Karena anak-anak cenderung merindukan kepada kepahlawanan, menyukai hal-hal yang mulia, menyenangi akhlak yang terpuji, membenci perkara yang tercela dan lari dari akhlak yang tercela.

Saya jadi teringat keponakan saya, Zufar, di Surabaya. Ketika masih kecil umur-umuran 3.5 tahunan sudah shalat wajib lima waktu, lucunya sebelum sholat dia mesti naik ke kamarnya di lantai 2 dan adzan dengan suara khasnya yang kuenceng. Kemudian iqomat sendiri dan shalat sendiri sebagai imam, tidak mau jadi makmum, dengan dikeraskan atau dilemahkannya bacaannya mengikuti kaedah yang benar, -mungkin dah dikasih tahu ibunya kali-. Tapi kalau saya sedang main kesana, dia selalu ikut saya ke masjid, dan selalunya ingin sholat di depan belakang imam persis, walaupun nantinya digeser jama’ah lain karena mungkin dianggap terlalu kecil, -kacihan deh…, gumam hati saya-.

Mengenai suaranya yang khas, kuenceng ketika amiin… sempat membuat kangen para jama’ah yang kebanyakan dah berumur. Waktu itu hari terakhir keluarga kakak saya tinggal di rumah kontrakan, besoknya dah pindahan ke rumah sendiri. Waktu sholat isyak Zufar ikut saya ke masjid, ketika kami mau pulang, kami pamitan sekalian kepada jama’ah masjid. Pak Imam dan Bu Imam yang sedang duduk-duduk di serambi masjid langsung bilang (kurang-lebihnya, dah agak lupa), “Wah suaranya kuenceng sekali kalo amiin, ngangeni suaranya, mungkin malahan dia yang amin nya diamini malaikat dan dikabulkan Allah Ta’ala, karena belum punya dosa“, benar juga ya dalam hati saya. Suaranya yang kas ini, menjadi menarik ketika dia adzan subuh dan membaca alfatihah + surat pendek dengan kerasnya waktu sholat subuh. Sampai seorang bapak yang dah sepuh tetangga rumah bilang, “wah mas Zufar kalau subuh mbangunkan mbah ya..” Tapi sekarang dia dah kelas 1 SD di al-Hikmah Surabaya, dan mungkin wis duwe dugho sehingga kebiasaan adzan ketika kecil dah dilupakannya atau mungkin malu ya..??.

Si Zufar juga dah pandai mbaca ketika umur-umur 3.5 tahunan lho. Waktu itu dia diajak ibunya untuk periksa giginya yang silver queen ke dokter gigi, mungkin lagi seneng2nya mbaca ya, eh ketika di ruangan dokter dia mengeja tulisan yang ada di ruangan. Sehingga pak dokter berkomentar, “eh kecil-kecil dah pandai mbaca“. Si kecil ini juga dah pandai mbaca al-Qur’an dan hafalannya sangat kuat, sehingga banyak hafal surat-surat di Juz’amma. Saya teringat juga waktu dulu menjaganya, saya perdengarkan murottal al-Qur’an oleh qari’ Musyari Rashid al-Fasi, eh masyaaAllah air matanya mengalir, seolah dia faham dan terhanyut oleh syahdu nya suara Musyari, saya jadi iba melihatnya kala itu. Ternyata si Zufar punya jiwa yang halus dan sangat hanif, dan sampai sekarangpun dia masih suka dengar murottal al-Qur’an, alhamdulillah.

Banyak hal-hal yang lucu dan bagus dari si Zufar ini, yang mungkin kalau ortunya bisa menjaga fitrahnya sampai besar nanti, alangkah bagusnya dan mungkin akan menjadi seorang yang ‘alim. Misalnya, kalau dia ke rumah mbahnya di Karanganyar-Solo yang dekat dengan masjid, pasti kalau sedang main dan mendengar adzan akan pergi ke masjid & mengajak kawan-kawannya. Ketika adzan subuhpun, dia langsung bangun dan lari ke masjid, padahal anak seumurannya biasanya masih pada tidur, sehingga bapaknya yang kawatir jadi ikutan ke mesjid, mengikutinya dari belakang.

Si kecil Zufar juga seorang yang dermawan, ortunya memang sejak dulu mengharapkan anaknya jadi orang yang dermawan dan suka membantu. Sehingga kalau mobil kita lewat salah satu rel kereta api di Ketintang yang tidak ada penghalangnya dan ada sukarelawan yang siang-malam menjaganya pasti Zufar disuruh ngasihkan uang ke penjaganya. Ortunya juga selalu menyediakan suatu tempat uang recehan di rumahnya untuk diberikan kepada pengemis yang kebetulan mampir ke rumah, dan si Zufar lah yang aktif memberikan uangnya kepada pengemis-pengemis itu. Suatu pendidikan moral-value: kedermawanan sejak dini yang sangat bagus.

Karena sifat dermawannya itu, kalau ada kawannya main ke rumah, semua mainannya pasti di keluarkan. Sehingga tak heran kata guru-gurunya di SD Al-Hikmah, di sekolah Zufar disenangi teman-temanya dan pandai bergaul. Laa wong kalau dia ke mbah nya di Karanganyar pasti kawan-kawan kampungnya pada berdatangan. Selamat deh untuk Zufar, semoga menjadi orang ‘alim yang ngamal dan orang kaya yang dermawan, sebagaimana hal tersebut dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sesuatu yang kita boleh iri bila ada pada diri seseorang (ghibthoh).

Ana masih ingat ketika dia masih bayi, betapa setiap malam mesti nangis, sehingga ibunya harus rela tidak tidur semalaman, padahal paginya harus ngantor dengan profesinya sebagai programmer, -ternyata kaum Hawa terkadang jauh lebih kuat daripada kaum Adam ya..-. Mungkin karena hidup di kota besar yang individual, Zufar kecil tak punya kawan seumuran dengannya sehingga sering kesepian. Ketika berumur 3.5 tahunan akhirnya dimasukkan ke playgroup walaupun waktu itu belum bisa ngomong. Tapi saya salut dengan PD-nya, kalau guru menawarkan kepada murid-murid untuk maju kedepan entah untuk nyanyi atau apa, dia pasti angkat tangan nomor 1, walaupun akhirnya di depan cuma diam, laa ngomong aja belum bisa. Ternyata dia mempunyai gejala autis, dan untung ortunya cepat tanggap sehingga bisa tertangani sejak dini. Saya masih ingat ketika waktu itu pulang dari M’sia dan si Zufar ikut menjemput di bandara, dan seingat saya dia tak pernah absen mengantar-jemput saya kalau saya pulang-balik ke negeri jiran ini. Di tengah perjalanan bapaknya bilang, “Om sekarang mas Zufar dah pandai ngomong“. Dan saya dengarkan sendiri dia berceloteh dengan lancarnya.

Kalau sifat PD nya kayaknya masih langgeng sampai sekarang. Belum lama ini saya pulang ke Karanganyar dan baliknya ke Surabaya ikutan kakak yang lagi mudik. Kemudian diperjalanan kita biasanya istirahat untuk makan dan shalat, ana iqomat dan biasanya kakak ipar saya yang menjadi imam. Iseng-iseng saja (canda doang), saya ngomong, “Ayo mas Zufar jadi Imam“. Eh dengan malu-malu dia maju beneran dan ketika sudah takbiratul ikram saya tarik dia sambil ketawa, PD banget anak ini gumam saya dalam hati. Bisa berabe anak kecil ini ngimami kita-kita yang dah makan garam, -walaupun dibolehkan kalau memang hafalan & pemahamannya lebih bagus dari kita-. Ngomong-ngomong dia juga sudah faham dan mengamalkan keringanan untuk menjamak & qashar sholat ketika dalam perjalanan. Mungkin karena seringnya dia safar ke rumah mbahnya di Karanganyar dan Temanggung kali, subhanallah!.

Yang jadi fokus perhatian saya terhadap si Zufar ini sebenarnya adalah bahwa sikap & perilaku dia yang demikian ini tak lepas dari peran ortunya, terutama ibunya yang selalu mendongenginya dengan dongeng-dongeng kepahlawanan ketika mau tidur. Pernah kok dia nangis uring-uringan, mungkin waktu itu dia lagi tidak mood, disuruh subuhan agak malas-malas, akhirnya oleh ibu nya dikasih jentik, padahal biasanya dikasih jempol. Wah jadi ramai tu rumah dengan jerit-tangis Zufar. Dia minta ibu nya ngulang sholat subuh lagi dengannya, wah..wah.. si Zufar, smoga dapat jempol terus deh.

Juga sifatnya ketika bayi yang selalu nangis itu adalah bawaan ibunya yang juga selalu nangis ketika bayi, kata bapak, mbah, om-om dan bulik-bulik saya. Kalau ibunya dulu ketika kecil habis tidur-waktu subuh suka menyanyi “Nina bobok Bobby sudah besar…, tidak boleh nakal“, kata bapak saya, sedang anaknya habis tidur-waktu subuh suka adzan, he..he… Bawaan ni ye ! :) .

Kembali ke tema asal. Kemudian, kualitas orang tua akan menular kepada anaknya, bahkan kecerdasan orang tua pun sangat berpengaruh dalam jiwa anak. Jadi, salah satu hal yang dapat mempersiapkan anak untuk menjadi cerdas ialah agar orang tua atau kakek mendahuluinya dengan kecerdasan. Sebab seringnya nama para pendahulunya yang pandai disebut-sebut di telinganya dan memperhatikan sebagian dampak kecerdasannya, maka keduanya dapat mempengaruhi kemauannnya dan memacu semangatnya; untuk mengikuti jejak para pendahulunya mendapatkan kedudukan yang mulia dan nama yang harum.

Berapa besarnya pengaruh kedua orang tua dalam pendidikan dan dalam jiwa anak-anak, seperti perihal salaf shalih kita yang telah mengeluarkan kepada kita generasi yang mulia, dan memberikan kepada kita generasi paling utama yang tidak seorang pun dapat menandinginya dalam keutamaan dan kemuliaan.

Siapakah yang berada dibalik pahlawan-pahlawan itu?. Dan siapakah yang mencetak mereka itu?. Jika kita tengok ihwal mereka dan mengikuti perjalanan mereka, niscaya kita ketahui bahwa di balik masing-masing mereka terdapat orang tua yang agung atau ibu yang agung yang mendidik anak-anak mereka untuk meraih kesempurnaan dan kemuliaan.

Dialah Amirul Mukminin Abul Hasan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, ia berpindah-pindah dalam pendidikannya di antara dua belaian dada yang penuh hikmah dan mengasuhnya dengan akhlak yang agung dan mulia. Pertama ia disuapi oleh ibunya, Fathimah binti Asad, dan diasuh oleh ummul mukminin Khadijah binti Khuwalaid radhiyallahu ‘anha.

Inilah Amirul Mukminin, genius Arab, Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Di belakangnya ada ibu yang agung, Hindun binti ‘Utbah. Saat dikatakan kepadanya sementara Mu’awiyah masih bayi, “Jika ia hidup, maka ia akan memimpin kaumnya“. Maka ia (ibunya) menimpali, “Ibunya akan kehilangan dia, jika ia hanya memimpin kaumnya“.

Adalah Mu’awiyah bila diberi suatu kebanggaan dan dipuji karena kepiawaian pendapatnya, maka ia menisbatkan dirinya kepada ibunya. Lantas ia mengejutkan pendengaran para musuhnya dengan mengucapkan, “Aku adalah putra Hindun“. [1]

Dan inilah Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, dibelakangnya ada ibu besar, mulia dan pemberani, Asma bin Abi Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhum.

Asma’ pernah berkata, saat ia diberi kabar kematian putranya Abdullah bin Az-Zubair, “Apa yang menghalangiku untuk sabar, padahal kepala nabi Yahya bin Zakariya telah diserahkan kepada seorang pelacur bani Israil“. Ia pun sebelumnya juga berkata, ketika putranya meminta pendapatnya untuk memerangi Hajjaj Ats-Tsaqafi, “Pergilah!!. Demi Allah, ditebas dengan pedang demi kemuliaan adalah lebih utama daripada dipecut dengan cemeti demi kehinaan“. [2].

Smoga kita bisa meneladaninya, terutama kaum Hawa.., ditangan kalian lah masa depan generasi umat ini…

Kiat-Kiat Meraih Keberanian & Membuang Rasa Takut Yang Berlebihan

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi minderan atau kurang pe-de ketika berada di depan publik. Diantaranya adalah faktor keluarga: tidak adanya komunikasi di dalam keluarga, sehingga apa yang terjadi di dalam keluarga akan mempengaruhi perilaku seseorang di luar rumah. Orang tua (ortu) sangat berperan besar dalam pembentukan karakter dan keberanian seseorang, sehingga hendaknya orang tua selalu mengajak anak-anak mereka ke dalam pertemuan-pertemuan umum dan mengenalkan anak-anak mereka dengan kawan-kawannya.

Tapi tidak semua orang beruntung mendapatkan ortu yang faham dalam masalah psikologi pendidikan anak, sehingga diperlukan kiat-kiat yang bisa mengubah karakter seseorang yang sudah terlanjur menjadi karakter sejak kecil. Berikut adalah beberapa kiat-kiat yang dapat membantu seseorang meraih keberanian dan membuang sikap berlebih-lebihan dalam membesar-besarkan rasa takut.

a. Membiasakan diri

Kurang biasa terhadap suatu perkara dapat membawa kepada sikap pengecut; sebab apabila seseorang belum pernah melihat dan terbiasa dengan sesuatu, maka ia tidak akan berani menghadapinya. Seperti seorang pelajar apabila belum biasa berpidato, maka suaranya gemetar, air ludahnya kering & tubuhnyapun gemetar.

Demikian pula orang yang tidak terbiasa aktif dalam berbagai forum dan bergaul dengan orang banyak, maka ia akan takut kepada mereka dan ketakutan tersebut membawanya bersikap tertutup atau mengasingkan diri.

Solusinya adalah dengan berlatih atau membiasakan diri. Ia harus mencoba berpidato sehingga menjadi khatib, dan mencoba bersikap berani sehingga menjadi pemberani.

b. Siap menghadapi sesuatu yang tidak disukai terjadi dan tidak membesar-besarkan hasil yang dicapai.

Point penting & bermanfaat dalam masalah ini ialah menganggap ringan bila sesuatu yang tidak disenangi benar-benar terjadi.

Seandainya seseorang yang pertama kali berkhutbah, namun ternyata tidak bagus, dan para hadirin mengkritiknya, kemudian ia menganggap kecil hal tersebut seraya berkata dalam hatinya; “seluruh khatib menghadapi hal seperti ini”, niscaya ia akan menjadi berani dan tidak takut.

Demikian pula sekiranya seorang dokter memutuskan untuk melakukan operasi bedah kepada pasien, lalu pasien tersebut ditakdirkan meninggal, sedangkan si dokter menganggap kecil hal itu, niscaya ia dapat menghadapi perkara tersebut dengan tabah tanpa menimbulkan tekanan jiwa yang berlebihan.

Ibnu Hazm berkata, “Bersiaplah menghadapi sesuatu yang tidak disukai, niscaya berkurang kesedihanmu apabila sesuatu yang tidak kau sukai tersebut datang. Dan kegembiraanmu semakin besar dan semakin berlipat-ganda apabila datang kepadamu sesuatu yang kau sukai yangmana sebenarnya tidak pernah diperkirakan sebelumnya“.

c. Melihat akibat yang ditimbulkan.

Yakni melihat segala akibat dari sikap pengecut dan berani. Jika nampak jelas baginya bahwa kebaikan akan lebih cepat sampai kepadanya apabila ia berani daripada bersikap pengecut, maka hal itu akan membangkitkan keberaniannya.

Barangsiapa yang takut keluar dari negerinya untuk mencari rizqi atau ilmu, hendaklah ia melihat akibatnya, maka ia akan melihat berbagai kemungkinan. Mungkin saja ia akan sakit dalam perjalanannya dan boleh jadi ia akan meninggal di negeri orang. Tetapi yang meyakinkan adalah apabila ia tidak pergi, maka sempit rizqinya, sedikit ilmu dan wawasannya, menjadi penakut ataupun sudah pasti akan terkekang dalam kebodohan.

Melihat segala akibat yang ditimbulkan adakalanya membawa seseorang menjadi pemberani, terutama apabila ia mengetahui bahwa kehidupan ini bukanlah detak jantung semata, bukan hanya dilewatkan dengan makan dan minum, melainkan harus dilalui dengan perjuangan, kerja keras, memberi manfaat dan mengambil manfaat. Jika tidak demikian, maka manusia akan menjadi sampah yang tak berharga bagi siapapun.

d. Menyadari bahwa kita tidak mungkin bebas dari orang lain.

Bebas dari makian dan hujatan manusia adalah sesuatu yang sangat didambakan, terutama apabila orang tersebut termasuk orang yang diperhitungkan dan sedang melaksanakan tugas besar.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengira bahwa dirinya bebas dari makian dan celaan orang lain, maka ia adalah orang gila“.

Jika demikian halnya, maka seyogyanya seseorang tidak terlalu menganggap besar perihal orang lain dalam hatinya. Jangan sampai pengintaian mereka dan ketakutan terhadap celaan mereka menjadi penghalang dirinya untuk merealisasikan cita-citanya.

Basysyar bin burd berkata;

Siapa yang takut kepada orang lain, maka tak akan memperoleh keperluannya

Sedangkan sang pemberani dan tekun, akan meraih segala kebaikan.

Silm Al-Khasir juga telah berkata;

Siapa takut kepada orang lain, ia akan mati dalam kesedihan

Sedangkan orang yang berani, pasti meraih segala kelezatan.

e. Menyadari bahwa kegagalan itu tidak berbahaya.

Apabila seseorang pada mulanya mengalami kegagalan, sekali atau beberapa kali, maka jangan bingung dan putus asa. Ulangi terus-menerus, berusaha dan berusahalah lebih giat lagi. Ketahuilah bahwa kegagalan itu adalah jalan menuju keberhasilan dan bahwa kesalahan itu adalah jalan menuju kebenaran.

f. Percaya diri.

Seseorang tidak boleh hanya mengingat aspek-aspek kelemahan dalam dirinya, karena hal itu dapat membawa seseorang kepada sikap berlebih-lebihan dalam mengerdilkan dirinya, dan pada gilirannya menghambat untuk maju.

Hendaklah disamping mengingat aspek kelemahannnya, ia juga harus mengingat aspek-aspek kekuatan dan potensi dalam dirinya sehingga hal itu mendorongnya untuk maju.

g. Tawakkal kapada Allah setelah berusaha.

Jika seseorang hendak berbicara dalam sebuah forum, -misalnya-, hendaknya ia membuat persiapan sehingga tidak tergagap-gagap, terutama apabila masih tergolong pemula.

Jika seseorang telah berusaha (ikhtiar), maka hendaklah kemudian bertawakal kepada Allah dan menyerahkan urusannya kepada-Nya.

h. Imam kepada qadha dan qadar.

Imam kepada qadha dan qadar mengharuskan seorang hamba yakin bahwa sesuatu yang tidak ditakdirkan mengenainya, tidak akan menimpa kepadanya dan apa yang ditakdirkan menimpanya, maka tidak akan meleset darinya. Keimanan ini dapat membangkitkan dirinya untuk maju terus dan tidak peduli dengan apa yang diperolehnya.

i. Bersabar pada pukulan yang pertama.

Jika seseorang pertama kali berpidato, -misalnya-, maka ia harus bersabar saat pukulan yang pertama; karena kesabaran dapat menghilangkan kegusaran. Jika ia bersabar pada mulanya, maka mudah baginya untuk mengejar ketinggalannya. Sebaliknya jika ia putus asa dan belum apa-apa sudah mengalah, -kalah sebelum bertanding-, maka ia tidak akan mendapatkan kemuliaan.

j. Menyabung (bertaruh) nyawa.

Dengan inilah keberanian akan didapat, dengannya pula sikap pengecut bisa dienyahkan. Kadangkala manusia, -baik dia itu adalah pedagang, juru bicara, prajurit dll-, membutuhkan hal ini.

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhum pernah berkata kepada ‘Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu, “Barangsiapa mencari kebesaran, maka ia harus menyabungnya dengan sesuatu yang besar pula“. [6]

Ka’b bin Zuhair radhiyallahu ‘anhu berkata;

Bukanlah bagi orang yang tidak mengendarai kebesaran itu suatu pencarian,

dan bukanlah bagi perjalanan yang digariskan oleh Allah itu suatu beban.

Jika anda tidak menghentikan kebodohan dan kekejian,

maka anda menjadi musibah bagi penyantun atau anda tertimpa kebodohan.

Juga dikatakan,

Kehinaan itu terletak pada sikap mengabaikan diri

Aku tidak melihat kemuliaan hidup tanpa mengusahakan jiwa untuknya .

Semoga bermanfaat dan segera bisa wake-up…..